Salam Kenal!

January 21, 2014 § 1 Comment

Saya tak pernah memikulkan harapan yang besar dan muluk pada tulisan-tulisan yang saya buat. Ada orang yang bersedia menyempatkan diri barang sejenak untuk membacanya saja saya sudah senang bukan kepalang. Tak ada sedikitpun mimpi agar nantinya tulisan-tulisan itu membuat saya dikenang dan mengabadi seperti kata Pramoedya Ananta Toer meskipun musykil juga bagi saya untuk menyangkal ‘keabadian’ beliau berkat apa yang beliau tulis. Pun tak pernah saya membayangkan tulisan-tulisan saya dapat memengaruhi satu-dua orang, apalagi sampai mengubah dunia sebagaimana surat-surat R.A. Kartini yang dikumpulkan oleh J.H. Abendanon ke dalam Door Duisternis Tot Licht.

Saya sadar, tulisan saya tak mempunyai rangka yang kokoh untuk memikul harapan tersebut. Dan saya menulis memang sekadar karena saya ingin. Lha wong mulai menulis saja baru pada tahun terakhir saya berseragam putih abu-abu. Ketika itu saya ‘murtad’ dari kegemaran saya pada hal-hal matematis yang sudah lama sekali saya tekuni sejak masih kanak-kanak, lantas memilih literasi sebagai suaka pelarian. « Read the rest of this entry »

Amelia

January 4, 2014 § Leave a comment

“Bagaimana kabar ibumu di rumah, Lia?”, tanya lelaki dengan wajah penuh keriput itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah gadis yang berada persis di samping kirinya.

Gadis itu bernama Amelia. Orang-orang terdekat biasa memanggilnya Lia. Beberapa yang lain memanggilnya Amel. Parasnya bersih dan rupawan, namun dingin seperti air wudhu di kala subuh. Rambutnya yang lurus legam seperti malam di musim penghujan dikucir kuda. Jika diurai, barangkali akan menjuntai hingga sebatas payudaranya yang bulat.

Mereka berdua, lelaki setengah uzur dan gadis kencur itu, bertemu tanpa sengaja beberapa jam yang lalu di meja nomor 14 di sebuah kafe di pusat kota.

“Ibu? Memangnya perempuan tua sakit-sakitan itu masih kau anggap penting untuk diketahui kabarnya?”, jawabnya ketus.
« Read the rest of this entry »

Diorama 2013

January 1, 2014 § Leave a comment

Kembang api telah padam. Petasan dan bebunyian terompet telah redam. Tak ada yang tersisa dari hiruk pikuk semalam, selain foto sampah yang berserak di sana sini dan kabar tentang laris manisnya penjualan tadah mani. Masih sama seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, barangkali juga tahun-tahun mendatang. Tahun baru disambut dengan cara-cara usang.

Hujan mengguyur Kota Bekasi tadi pagi ketika saya terbangun usai semalaman menyelesaikan deadline tulisan yang sebenarnya sudah ‘dipesan’ sejak beberapa hari lalu. Saya masih sama : menjadi seorang deadliner, dan tak begitu antusias membaur dalam kerumun seremonial satu tahun sekali itu. Bukankah setiap tanggal juga satu tahun sekali. Lagipula tanggal 29 Februari sebenarnya malah lebih akseptabel untuk dirayakan. Ia ada empat tahun sekali, bukan.

Yang berbeda dari saya hanyalah satu : saya sekarang di Bekasi –kota yang sedikitpun tak pernah saya bayangkan akan menjadi ‘rumah’ kesekian saya. Bukan Bantul, bukan juga Bintaro. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for January, 2014 at .